Menu Atas


30 Juli, Juli 30, 2026 WIB
Last Updated 2026-07-30T08:59:02Z
ARTIKEL

Jacob Ereste :Materialisme dan Spiritualisme Dalam Tradisi dan Budaya Suku Bangsa Nusantara Yang Telah Menjadi Indonesia

Advertisement
Kualitas itu akan selalu diuji dari apa yang dihasilkan dalam wujud mutu  saat digunakan oleh pihak lain. Karena itu, kualitas tidak bisa diklaim sepihak -- apapun bentuk dari kualitas yang bisa diuji kesahehan -- dari kualitas yang dimaksudkan itu. 

Pemikiran seorang profesor harus mencerminkan kualitas dari gelar besar itu, tidak kaleng-kaleng. Maka itu, sikap dan sifat yang ugahari dan rendah hati, akan selalu dilakukan dengan kehati-hatian, tidak perlu arogan sehingga sikap jumawa tidak perlu tampil hanya untuk menunjukkan kebodohan yang tidak penting untuk diketahui banyak orang. 

Tiga gelar yang paling populer dan sering digunakan diantaranya gelar adat, gelar akademik, gelar keagamaan. Untuk menyandang gelar yang sangar besar kharismanya itu, bisa saja justru menjadi beban yang sulit untuk disandang, bahkan bisa menumbangkan harga diri hingga martabat instansi dari asal gelar itu diperoleh. Atas dasar pertimbangan inilah -- umumnya mereka yang sadar -- tak hendak menempelkan gelar besar itu di depan atau pun dibelakang namanya yang tidak  memiliki kapasitas untuk mencantumkan gelar itu, baik secara formal maupun informal. 

Tapi juga bukan tak banyak orang yang doyan menempelkan semua gelar yang bisa dipakainya, meski tidak cukup memiliki bobot yang dapat dipertanggung jawabkan dengan menyandang seabrek gelar yang ditempelkan itu, karena memang sekedar untuk gagah-gagahan belakang dan upaya membangun citra diri yang palsu, tidak otentik alias abal-abal. Ibarat telepon genggam yang ada di tangan kita -- hand phone -- yang penting sesungguhnya bukan kesing dari penampilan hand phone itu -- sebab yang kita perlukan adalah kualitas dari daya tangkap untuk sinyal, kecepatan akselerasi dari hand phone tersebut serta keahlian dari diri kita untuk  mengoperasionalkan hand phone tersebut. 

Jadi, harus dapat dipahami juga antara kualitas hand phone dengan kemampuan dan keahlian kita mengoperasionalkan hand phone tersebut. Sebab kualitas hand phone yang tidak selaras dan tidak serasi dengan kemampuan dan keahlian pengguna, hanya akan memamerkan kekonyolan juga. 

Dalam tradisi dan budaya suku bangsa tertentu di nusantara ini, gelar atau julukan dari lingkungan keluarga banyak yang tetap terpelihara dengan baik. Tapi gelar atau  julukan dari lingkungan keluarga itu pun berlaku khusus, hanya dilingkungan karya semata. Maka itu, gelar atau julukan dari keluarga ini akan menjadi seperti "barang ekslusif" ketika dibawa atau terbawa ke ruang publik. Seperti Daing, Batin, Kiyai dan Minak misalnya, untuk  sesebutan dari keluarga suku bangsa Lampung. Bisa saja, julukan dan gelar khusus dari keluarga ini diberikan kepada suku bangsa lain yang memang memiliki legitimasi adat untuk menyandangnya. Namun yang pasti, semua julukan dan gelar dari keluarga atau yang lebih bersifat kebiasaan dari adat ini, bukan karena diminta oleh yang bersangkutan, karena gelar atau  julukan ini -- yang disebut sebagai adek -- sepenuhnya diberikan oleh pihak keluarga. Dan masing-masing keluarga pun dapat menentukan sendiri gelar atau julukan yang dianggap paling tepat dan paling terhormat untuk orang yang bersangkutan itu.

Begitulah, dalam tradisi dam budaya Jawa, ada sebutan Mas yang sudah berlalu umum seperti sebutan Romo untuk mereka yang dianggap lebih tua dan memiliki keilmuan tertentu yang tidak dimiliki oleh banyak orang. Tapi intinya, gelar atau julukan seperti itu tidak berasal dari orang yang bersangkutan, tapi berasal dari orang yang menyebutkan gelar atau julukan itu.

Persis seperti julukan untuk Lay, Ucok,  Pariban, Pak Uda, Inang Tua dan sebagainya, sehingga suasana kekeluargaan jadi terasa lebih hangat dan akrab, familiar.  Lalu, mengapa iklim tradisi dan budaya kita kini terasa kering dan gersang. Adakah ini yang disebut "kemarau budaya" yang tergerus oleh etika, budi daya,  moral dan akhlak yang semakin dibayangi oleh materialisme sehingga nilai-nilai spiritualisme jadi meredup atau bahkan sudah sana sekali punah ?  

Agaknya, semua itu perlu direnungkan kembali secara berulang-ulang, agar butir-butir mutiara warisan para leluhur suku bangsa Nusantara --  yang telah diubah -- menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengapa jadi terkesan begitu berat untuk mewujudkan cita-cita proklamasi bangsa yang sudah ditasbihkan hampir 100 tahun silam.



Banten, 29 Juli 2026