Londo Ireng itu istilah dari budaya Jawa untuk mengatakan adanya sosok pribumi yang berwatak Belanda -- penjajah, penindas dan birahi untuk menguasai dengan prinsip ingin enak sendiri -- tanpa memiliki pertimbangan kemanusiaan. Karena yang penting dirinya bisa selamat, bisa enak meski harus terus menindas dan merampas hak- hak milik orang lain.
Dalam pengertian yang lebih gampang dan sederhana, istilah Londo ireng untuk mengatakan adanya sosok manusia pribumi Indonesia yang anasionalis. Tidak perduli dengan nilai-nilai kebangsaan Indonesia yang harus dijunjung tinggi penuh rasa hormat sebagai martabat bangsa di hadapan bangsa asing.
Realitasnya di Indonesia sampai sekarang memang tetap ada, meski dalam bentuk serta cara yang lain, yaitu menghamba pada bangsa asing.
Dalam terminologi bahasa ungkap dari budaya Jawa, istilah Londo Ireng ini bisa dipahami sebuah perilaku dari bangsa asing yang inging melemahkan atau menggerogoti posisi bangsa Indonesia dalam semua sendi kehidupan yang dianggap dapat menguntungkan mereka -- sebagai bangsa asing -- sebab pemahaman dari londo itu sendiri maksudnya adalah untuk semua bangsa asing. Karena Londo -- Belanda -- representasi dari semua bangsa asing -- karena yang paling dikenal serta dipahami oleh budaya Jawa adalah sosok Bangsa Belanda yang -- seakan-akan -- sebagai wujud tunggal dari bangsa asing yang pernah menjajah Indonesia di masa lalu.
Jadi, istilah Londo Ireng itu untuk menyebut warga bangsa Indonesia yang berperilaku buruk seperti bangsa Belanda yang pernah menindas bangsa Indonesia hingga disebut relatif lama selama 350 tahun. Kendati menurut para ahli sejarah, secara nyata bangsa Belanda itu hanya menjajah Indonesia cuma beberapa tahun saja, setelah Indonesia merdeka sejak tahun 1945. Karena sebelum itu, nama negara Indonesia belum sah disebut secara hukum.
Istilah Londo Ireng yang gaduh dan viral diperbincangkan di media massa, pasto menarik karena dilontarkan oleh seorang Presiden Indonesia yang sedang menduduki fungsi dan peranan penting di republik ini. Apalagi kemudian, istilah Londo Ireng itu sendiri seakan ditujukan kepada kalangan profesi pekerja tertentu sehingga terasa sangat menggigit dan menyengat dalam suasana yang sedang rentan dan sensitif untuk dipahami terkait dengan dugaan pengalihan isu dari sejumlah masalah besar agar bisa luput dari perhatian dan retensi warga masyarakat.
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto pada akhir belakangan ini -- sejak tensi politik naik suhunya -- acap terlepas komentar yang tidak pas, seperti sungutan beliau terhadap kalangan aktivis yang aktif melakukan kritik terhadap kebijakan pemerintah, hingga untuk yang tidak setuju dia persilahkan untuk meninggalkan Indonesia, sungguh tidak bijak dan tidak elegan untuk diucapkan oleh seorang pejabat publik, karena negeri ini adakah milik kita bersama, bukan warisan dari pribadi leluhur perorangan seperti dari satu dinasti.
Oleh karena itu, suasana feodal dan kolonial menjadi sangat terasa mengganggu hidup di alam nyata republik yang remang-remang dari cahaya masa silam yang kelam, dan tak lagi kita inginkan kembali berulang dengan segenap dera dan derita yang telah dihadapi oleh para pendahulu kita dengan tetesan keringat, darah dan air mata.
Sebagai aktivis dan penulis yang cukup memiliki jaringan luas dengan kaum pergerakan, biasa mendapat kiriman khusus tentang kisah tentang Tawalijn Sigar yang bisa diikuti kisah kasihnya sejak abad 18 di Manado lalu ikut mendukung Belanda menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro di Jawa, 1825-1830. Dari tradisi lisan keluarga Minahasa memiliki pasukan yang dibentuk oleh Benyamin Thomas Sigar yang melakukan penangkapan terhadap Pangeran Diponegoro di Magelang. Lalu berlanjut pada Philip Frederik Laurens Sigar, seorang birokrat, amtenar, pejabat pemerintah kolonial Belanda dari Sulawesi Utara. Ia menikah dengan Cornelie Emilia Maengkom yang melahirkan Dora Marie Sigar.
Benyamin Thomas Tawalijn Sigar adalah Mayor Kepala Distrik Langowan. Menurut kawan dari Sulawesi Utara memastikan silsilah keluarga besar ini terdokumentasi baik dalam arsip sejarah lokal setempat, yaitu Jelajah Sejarah Manado serta biografi tokoh nasional Indonesia yang termuat dalam Wikipedia bahasa Indonesia. Tapi idiom Londo Ireng yang sangat populer digunakan dalam percakapan politik sehari-hari di Yogyakarta misalnya, memang tidak termuat dalam arsip sejarah nasional lokal Manado. Tapi madajah, istilah Londo Ireng itu, jadi terkesan sangat negatif ketika ditempelkan pada profesi pekerjaan tertentu yang justru sangat sarat dengan nilai-nilai nasionalisme bangsa Indonesia yang harus dan patut dikunjungi tinggi oleh segenap warga bangsa Indonesia yang sejati.
Banten, 26 Juli 2026