Paniai, Papua Tengah – Keputusan Bupati Paniai Yampit Nawipa untuk tetap aktif bermain sepak bola sekaligus memimpin pemerintahan daerah memicu perdebatan dan pertanyaan dari berbagai kalangan masyarakat, pengamat, serta elemen sipil. Terdaftar resmi sebagai pemain Persipani Paniai di Liga 4 Piala Presiden 2026, ia menjadi satu-satunya kepala daerah aktif di Indonesia yang tampil di kompetisi resmi PSSI.
Sebelum menjabat periode 2025–2030, Yampit memang dikenal sebagai pesepak bola andalan, dua kali meraih Pemain Terbaik Liga 3 Zona Papua. Namun status ganda ini menimbulkan kekhawatiran: apakah tugas utama sebagai kepala daerah akan terabaikan di tengah padatnya jadwal latihan dan pertandingan di luar daerah?
“Kami bertanya-tanya, mana prioritas? Membangun daerah atau bermain bola? Pembangunan jalan, kesehatan, dan ekonomi kampung butuh kehadiran dan keputusan cepat bupati,” ujar Ketua Forum Masyarakat Peduli Paniai, Melkianus Dogopia, Selasa (15/6/2026).
Menilai ini memotivasi pemuda, menghidupkan olahraga lokal, dan tetap dekat rakyat. “Beliau tetap bisa atur waktu, tidak ada larangan undang-undang selama tidak mengganggu tugas,” kata pengamat olahraga Papua, Aris Wonda.
Mengingatkan UU Pemerintahan Daerah menuntut kepala daerah fokus penuh. “Profesi ganda berisiko menurunkan kinerja pelayanan publik. Rakyat tidak butuh bupati yang jago main bola, tapi jago membangun,” tegas pengamat kebijakan publik, Drs. Simon Kogoya.
Dikonfirmasi, Yampit menegaskan: “Saya bermain bukan cari sensasi, tapi wujud cinta olahraga dan contoh bagi anak muda. Semua tugas pemerintahan tetap saya jalankan tepat waktu, dibantu wakil dan kepala dinas. Tidak ada agenda yang terlewatkan”.
Saat ini, publik menunggu bukti nyata: apakah kinerja pembangunan Paniai tetap berjalan optimal meski pemimpinnya memiliki peran ganda di lapangan hijau.