Di tengah kekecewaan publik karena Persipura gagal promosi ke Liga 1 musim ini, banyak jari telunjuk mengarah ke satu nama: Rahmad Dharmawan alias RD. Pelatih yang sudah tidak asing bagi publik sepak bola Jayapura itu dihujat, disalahkan, dianggap biang kegagalan.
Namun justru di titik inilah saya memilih untuk tunduk hormat. Sebab jika kita mau jujur membaca rekam jejak, RD adalah salah satu sosok yang paling tahu suka-duka Persipura. Dia bukan pelatih kemarin sore yang datang numpang nama.
Membaca Final Play Off: Bukan Salah Strategi
Final Play Off Liga 2 antara Persipura vs Adhiyaksa FC memang menyakitkan. Tapi sepanjang 90 menit, saya menilai RD sudah maksimal.
Babak pertama, dia turunkan pemain muda dengan mobilitas tinggi. Tujuannya jelas: _pressing_ ketat, serang cepat, curi gol di 10 menit awal. Sayangnya lawan membaca itu. Adhiyaksa FC memilih menumpuk pemain di belakang, bertahan total, dan hanya mengandalkan serangan balik. Satu serangan balik itu berbuah gol.
Statistik bicara: bola lebih banyak di mulut gawang lawan. Artinya Persipura dominan, terus menggempur. Tapi ketika tembok pertahanan lawan terlalu rapat, mencetak gol bukan soal salah taktik. Itu soal eksekusi dan sedikit keberuntungan. Babak kedua pun sama. Pertahanan lawan memang solid. Menyalahkan pelatih karena tak ada gol cepat justru mengabaikan realitas di lapangan.
Rekam Jejak RD: Sang Penyelamat di Masa Kritis
Untuk menilai RD, kita harus buka arsip lama. Ada dua momen kunci yang tak bisa dilupakan publik Mutiara Hitam.
1. Era Liga 1: Dari Zona Degradasi ke Runner-up, Lalu Juara
Sebelum era Jacksen Tiago, Persipura pernah terpuruk di zona degradasi Liga 1. Situasi genting sampai Manajer Persipura saat itu, MR Kambu, emosional di pinggir lapangan. Jalan keluarnya: panggil Rahmad Dharmawan.
Hasilnya? RD menyulap Persipura. Dari jurang degradasi, Boaz Solossa dkk. dibawa melesat hingga finis runner-up di akhir musim. Musim berikutnya, RD menuntaskan misi: Persipura juara Liga 1. Bintang keempat untuk Persipura lahir di tangannya. Belum termasuk trofi Piala Presiden yang juga pernah ia persembahkan.
2. Liga 2 Musim Ini: Dari Ancaman Degradasi ke Puncak Grup B
Cerita lama terulang musim ini. Persipura di Liga 2 sempat limbung. Kalah terus, terancam degradasi ke Liga 3. Manajemen kembali memanggil RD sebagai pemadam kebakaran.
Apa yang terjadi? Persipura di tangan RD menang 7 kali beruntun. Dari zona degradasi, langsung melejit memuncaki klasemen Grup B. Meski di akhir harus puas sebagai runner-up grup dan gagal di play off, fakta bahwa Persipura bisa selamat lalu bersaing promosi adalah bukti tangan dingin RD.
Yang Paling Kecewa adalah RD Sendiri
Saya percaya, orang yang paling kecewa atas kekalahan dari Adhiyaksa FC adalah Rahmad Dharmawan. Sebab dialah yang paling mengerti mental anak-anak Papua. Dialah yang tahu kapan Boaz harus dimainkan, kapan Yohanes Pahabol bisa jadi pembeda, kapan pemain muda perlu diberi menit.
Dia tahu dapur Persipura lebih dari kita yang hanya menonton 90 menit dari layar kaca. Dia yang merasakan tekanan, yang mengatur strategi, yang menenangkan pemain saat ruang ganti panas.
Apresiasi, Bukan Hujatan
Sepak bola memang kejam. Sekali kalah, semua yang baik mudah dilupakan. Tapi rekam jejak tidak bisa dibohongi. RD dua kali menyelamatkan Persipura dari degradasi. RD yang memberi Persipura satu gelar Liga 1. RD yang musim ini mengubah tim pesakitan jadi penantang promosi.
Untuk semua itu, satu kata pantas untuk Coach RD: terima kasih.
Terima kasih atas dedikasi. Terima kasih atas keringat. Terima kasih karena sudah percaya pada talenta anak-anak Papua.
Kalah hari ini bukan akhir. Persipura akan bangkit lagi. Dan jika manajemen masih percaya, RD adalah orang yang tepat untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
Semangat, Coach RD. Mutiara Hitam belum padam.
--
Penulis adalah Pemerhati Persipura berdomisili di Nabire , Provinsi Papua Tengah.