TSrpBSCoTpW0TfApTfAlBUA8Gd==

Waspada! Modus Lelang Emas Fiktif melalui Online Berkedok Pegadaian Marak

Bekasi - Polsek Pondok Gede, Polresta Bekasi, menerima laporan dari seorang warga bernama Yeni Sapmawati terkait tindak penipuan yang dialaminya, pada Senin, 06 April 2026. Yeni melaporkan bahwa ia tertarik dengan sebuah iklan pelelangan emas di akun Facebook. Pelaku mengaku menjual emas hasil gadai yang tidak ditebus nasabah, dengan harga di bawah pasaran.

Tergiur dengan tawaran tersebut, korban berkomunikasi dengan pelaku dan menyepakati harga. Ia kemudian mentransfer uang sebesar Rp 3.150.000 ke rekening atas nama Dewa Agustian di Bank BRI. Namun, setelah transfer dilakukan, emas yang dijanjikan tidak pernah dikirim.

Sebaliknya, korban justru terus dihubungi oleh orang tak dikenal yang meminta tambahan transfer dengan berbagai alasan. Merasa ditipu, korban akhirnya melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian.

Kasus ini menjadi modus penipuan yang semakin marak di dunia digital, khususnya melalui media sosial. Pelaku memanfaatkan kepercayaan masyarakat dengan menawarkan barang berharga seperti emas dengan harga miring, seolah-olah berasal dari lembaga resmi seperti pegadaian. Padahal, seluruh transaksi dilakukan secara online tanpa jaminan keaslian barang.

*Peringatan Publik dari Wilson Lalengke*

Aktivis dan pemerhati media, Wilson Lalengke, memberikan komentar keras terkait kasus semacam ini. Ia menegaskan bahwa masyarakat harus lebih waspada terhadap tawaran pelelangan emas atau barang berharga lain yang mengatasnamakan pegadaian atau toko resmi di media sosial. Menurutnya, modus ini sering digunakan oleh penipu untuk mengelabui korban dengan iming-iming harga murah.

Wilson Lalengke juga mengingatkan bahwa pegadaian resmi memiliki prosedur ketat dan tidak pernah menjual barang melalui akun pribadi di media sosial. “Jika ada yang menawarkan emas atau barang berharga dengan mengatasnamakan pegadaian secara online, besar kemungkinan itu adalah penipuan,” ujar Ketua Umum PPWI ini, Rabu, 08 April 2026, sambil menekankan pentingnya edukasi digital agar masyarakat tidak mudah tergiur oleh tawaran yang tampak menguntungkan namun tidak masuk akal.

Selain memberikan peringatan kepada masyarakat, Wilson Lalengke mendesak aparat kepolisian untuk lebih serius menindak para pelaku penipuan online. Ia menilai bahwa kasus seperti yang dialami Yeni Sapmawati hanyalah satu dari sekian banyak korban yang belum terungkap. “Penegakan hukum harus lebih tegas agar para penipu tidak leluasa menjalankan aksinya. Jika dibiarkan, kepercayaan masyarakat terhadap sistem transaksi digital akan semakin menurun,” tegasnya.

Wilson Lalengke juga mengajak masyarakat untuk segera melaporkan setiap indikasi penipuan ke pihak berwenang. Dengan adanya laporan resmi, aparat dapat menelusuri jejak digital pelaku dan mempersempit ruang gerak mereka.

Kasus penipuan yang menimpa Yeni Sapmawati menjadi pelajaran penting bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam bertransaksi online. Tawaran harga emas di bawah pasaran, apalagi melalui akun media sosial pribadi, patut dicurigai sebagai modus penipuan.

Peringatan dari Wilson Lalengke menegaskan bahwa kewaspadaan publik dan ketegasan aparat hukum adalah kunci untuk memutus rantai kejahatan digital ini. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan tindakan tegas dari aparat, diharapkan kasus serupa dapat diminimalisir sehingga ruang digital tetap menjadi tempat yang aman untuk bertransaksi. (TIM/Red)

Type above and press Enter to search.